[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]
SiaR-->XPOS: EXXONMOBIL: DI TENGAH TNI DAN GAM
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
Homepage: Under contruction
E-mail: ekspos@excite.com
Xpos, No 22-30 April 2001
============================================
EXXONMOBIL: Di TENGAH TNI dan GAM
Gas alam Aceh, adalah pendorong utama TNI melakukan pelanggaran HAM.
Sebaliknya, itu juga salah satu sebab yang membangkitkan GAM.
Pertikaian elit yang bergantian menguasai halaman-halaman depan media
massa nasional, kini, seolah-olah merupakan satu-satunya persoalan
terbesar bangsa Indonesia. Perhatian dan energi masyarakat, entah
disengaja atau tidak, diarahkan hanya untuk memikirkan
persoalan-persoalan elit semata. Tak Cuma di dalam negeri, media massa
luar negeri pun ikut-ikutan terjebak dalam pemberitaan model begini.
Apa yang dilakukan oleh Dan Murphy, yang menulis untuk The Christian
Science Monitor ("Indonesia's Wars over Riches", edisi 9 Maret 2001)
tentang kenyataan yang masih berlangsung di Aceh, kiranya merupakan
satu dari sedikit upaya untuk tidak terjebak dalam pemberitaan
persoalan-persoalan elit di Indonesia. Mungkin lantaran diidentikan
dengan gerakan separatis, maka di dalam negeri, tak banyak yang
mengangkat berita tentang propinsi paling barat yang pada tahun lalu
saja telah menjadi saksi terbunuhnya 1200 jiwa ini.
Pelanggaran HAM oleh militer masih amat nyata terjadi di sini.
Lhokseumawe, adalah salah satu arena konflik yang terutama. Di tempat
inilah, perusahaan ExxonMobil mengelola gas alam Arun, yang selama ini
membantu Indonesia menjadi pengekspor terbesar gas alam cair. Nyaris
semua uang yang dihasilkan dari tempat ini memang lebih banyak masuk
ke Jakarta. Ini yang menjadi salah satu penyebab utama bangkitnya
gerakan Aceh Merdeka: Membawa kembali uang tersebut ke Aceh. "Jika
kami merdeka, gas alam ini bisa membuat kami sekaya Brunei," ujar Amni
Ahmad Marzuki, seorang anggota GAM.
Namun, ini pula yang menjadi alasan bagi militer di Indonesia untuk
bertahan. Menurut seorang penyelidik HAM, tentara yang menjaga sekitar
operasi ExxonMobil, banyak melakukan penyiksaan dan pembunuhan.
Serangan GAM pun cukup tinggi di area ini. Polanya memang nyaris
selalu demikian. Gas, minyak serta emas merupakan faktor utama
munculnya gerakan memperjuangkan kemerdekaan. "Pemberontakan, tak saja
membutuhkan keberanian, tapi juga sumber dana. Gas dan kekayaan
mineral dapat mendukung keduanya," ujar Michael Ross, ahli tentang
sumber daya alam dan konflik dari University of Michigan. Kendati,
mengaku tak bertanggungjawab terhadap pelanggaran HAM yang terjadi,
ExxonMobil berada dalam posisi menentukan di sini.
Perusahaan itu, dalam kontraknya, harus membayar kehadiran polisi dan
tentara di wilayah itu. "Tanpa ExxonMobil, takkan banyak tentara
berada di sini," ujar Yusuf Ismail Pase, aktivis HAM dan pengacara di
Lhokseumawe. ExxonMobil sendiri enggan untuk diwawancarai oleh Dan
Murphy. Melalui satu respon tertulisnya, mereka hanya mengatakan
"mengutuk pelanggaran HAM yang terjadi dan senantiasa mengemukakan hal
ini pada President RI." Karena gas Arunlah, Lhokseumawe tumbuh menjadi
kota kedua terbesar di Aceh.
Kota ini merupakan tempat dari berbagai macam bisnis kecil yang
berusaha memanfaatkan kebutuhan para pekerja Arun. Pada saat
bersamaan, peluang ekonomi di kota ini telah pula membantu mendanai
dua pihak yang saling berhadapan: GAM dan TNI. Menurut Michael Ross,
kemungkinan besar, GAM memperoleh pendapatannya dari memeras bisnis
lokal di kota itu. Begitu pula dengan tentara Indonesia. The
International Crisis Group memperkirakan, 80 persen dari uang tentara
di sana diperoleh dari "perlindungan" serta hasil-hasil "sampingan"
lain yang biasanya ilegal.
Di sekitar Lhokseumawe, sikap masyarakat terhadap ExxonMobil sangatlah
kompleks. Hanya sedikit yang bersedia membicarakan keberadaan
perusahaan itu. Sebagian masyarakat tak jarang menyalahkan ExxonMobil
untuk berbagai pelanggaran HAM di sana.
Kehadirannyalah yang menjustifikasi kehadiran berbagai pos militer di
wilayah itu. Tapi, sebagian masyarakat lagi berpendapat bahwa mereka
bisa "hidup" justru karena adanya ExxonMobil yang telah memberikan
mereka peluang untuk berbisnis. "Kami tak ada masalah dengan
ExxonMobil," ujar Sulaiman seorang warga setempat. "Kami hanya punya
masalah dengan tentara yang mereka bawa serta ke sini."
Selama ini, ExxonMobil telah membangun sejumlah masjid, sekolah, rumah
sakit dan telah banyak membantu melalui berbagai kegiatan sosial
lainnya. Tapi, upaya yang mereka lakukan tampaknya mulai kehilangan
nilainya. Salah seorang pegawai ExxonMobil mengatakan bahwa seluruh
dana untuk program-program semacam itu, tidak digunakan sama sekali
sepanjang tahun lalu lantaran kekacauan yang terjadi di Lhokseumawe.
ExxonMobil sendiri dirampas sejumlah mobilnya, serta pernah mengalami
penyanderaan sejumlah insinyurnya. Entah bagaimana nantinya nasib
ExxonMobil. Tampaknya, selama tidak terjadi penyelesaian tentang
pembagian hasil gas alam cair yang dikelola ExxonMobil, kepada
pihak-pihak yang terlibat konflik, selama itu pula, Lhokseumawe akan
tetap membara.***
=============================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur:
Kirimkan alamat e-mail Anda
Kalau berminat berlangganan hardcopy XPOS,
kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: ekspos@excite.com
- ---------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: siarlist-unsubscribe@minihub.org
For additional commands, e-mail: siarlist-help@minihub.org