[Date Prev][Date Next][Thread Prev][Thread Next][Date Index][Thread Index]

SiaR-->JKB: SAYA PANAH FREEPORT DEMI KEBENARAN




Catatan Jaringan kerja Budaya:

Berikut kami  sampaikan catatan tentang Mama Yosepha Alomang, penerima
Goldman Environmental  Prize 2001. Kisah perjuangannya menjadi
sumbangan Papua bagi perbaikan nasib  rakyat dunia. Selamat mengikuti.

Jaringan Kerja Budaya <jkb@indo.net.id>

Yosepha Alomang: SAYA PANAH FREEPORT DEMI KEBENARAN


Indonesia nyaris kehilangan panutan (living example). Maklum, Gus Dur,
Megawati, Akbar Tanjung dan Amien Rais kerjanya beradu berebut
kekuasaan di atas penderitaan rakyat. Rakyat Papua pun dalam situasi
bingung : terjadi silang pendapat yang mempertanyakan kredibilibilitas
beberapa di antara pemimpin perjuangan Papua. Benarkah perjuangannya
demi kepentingan rakyat banyak, atau menggunakan rakyat banyak demi
kepentingan pribadinya?

Tiba-tiba dunia digemparkan. Harian New York Times edisi 24 April 2001
memuat iklan tentang 7 tokoh dunia yang masing-masing mewakili benua
Amerika, Eropa, Asia, Afrika, Australia sebagai penerima hadiah
Goldman Environmental Prize 2001. Seperti enam Goliath, mengelilingi
satu Daud, ada kelihatan satu Mama Kariting dan Hitam di antara
mereka. Dia berbadan pendek, tapi paling menyolok. Dia menjadi salah
satu sumbangan terbaik dari Papua untuk dunia.

Tapi aneh bin ajaib. Indonesia tidak berterima kasih. Mama Yosepha
yang mengibarkan nama Indonesia bahkan Asia di pentas internasional
itu pulang tanpa sambutan. Diam-diam. Di manakah Tuan Sony Keraf
(Menteri Lingkungan Hidup) dan Tuan Jaap Salosa (Gubernur Papua)
berada? Mungkin dorang anggap Yosepha perempuan Papua terkebelakang,
tidak berpendidikan akademis formal, mungkin primitif. Moralnya
kelihatan.

Rupanya mereka terlanjur menganggap perempuan Papua ini bodoh dan
terkebelakang. Nyatanya, dalam kebodohan dan keterbelakangannya, tidak
tanggung-tanggung, figur itu menampar telak muka sebuah mafia
internasional yang dengan kelimpahan uangnya  telah membeli kelompok
intelektual paling pintar di Indonesia, di Amerika bahkan di dunia.
Figur itu muncul dari kesederhanaannya dan membawa keteladanan yang
meruntuhkan keangkuhan. Dialah Mama Yosepha Alomang, perempuan Papua
dari suku Amungme. Dia muncul dari lautan tangis anak Papua akibat
kehadiran PT Freeport di Timika sejak tahun 1967.

Kepada sesama Papua dari kampung-kampung di Biak, pada tanggal 9 Mei
2001 Mama Yosepha bercerita.  Dahulu kala, alam di kampung kami
bersih. Gunung bersih, air bersih, hutan bersih. Mama-Mama bikin kebun
dan menyanyi,  selalu lihat gunung hijau. Kali jernih sampai bisa
lihat ikan dan karaka main bebas di dalam air. Lalu Freeport datang,
ada 25 negara makan di dalam Freeport. Mereka bikin rusak air, bikin
rusakhutan, bikin rusak gunung, bikin rusak sagu, bikin rusak ikan dan
karaka. Freport juga bikin rusak manusia. Semua dimasukkan ke dalam
pipa kemudian dialirkan ke Amerika. Saya menangis, orang kampung saya
menangis. Tangisan saya menjadi tangisan seluruh Papua. Kesakitan saya
menjadi kesakitan seluruh Papua. Tahun 1974, saya mulai berjuang. Saya
lawan Freeport sebab mereka bikin rusak. Saya tanya : kenapa kamu
bikin rusak? Freeport bilang, tanah ini milik negara. Kami sudah beli
dari negara. Saya tanya: sejak kapan negara bikin tanah, air, ikan dan
karaka lalu kasih saya sehingga dia boleh ambil seenaknya? Ini Tuhan
yang bikin dan kasih saya.

Saya seorang perempuan, orang Freeport lahir dari perempuan, tentara
lahir dari perempuan, negara juga lahir dari perempuan. Dan saya tidak
takut kepada Freeport, saya tidak takut kepada tentara atau negara,
mereka juga lahir dari perempuan saja mo! Saya hanya takut kepada
TUHAN! Lalu saya angkat panah perjuangan melawan Freeport. Bagi Mama
Yosepha, kalau laki-laki sudah tinggalkan anak panahnya maka terpaksa
perempuan harus jadi laki-laki dan angkat anak panah perjuangan.

Dan itulah yang dia alami. Dahulu, Amungme punya dua pemimpin. Satu
adalah laki-laki bernama Thom Beanal, satu lagi adalah perempuan
itulah Mama Yosepha. Tapi Freeport sudah ambil Thom Beanal dan
memasukkan Bapa Thom dalam pipa sama-sama dengan hasil kekayaan alam
dari Timika untuk dikirim ke Amerika. Sekarang Mama Yosepha angkat
Thom punya anak panah lalu memanah Freeport.

Mama Yosepha berjuang tanpa mengenal menyerah, lima kali masuk
penjara. Satu kali disiksa dalam kontainer. Apakah Mama berhenti?
Tidak. Perjuangan saya pertama-tama adalah karena kebenaran. Kedua
adalah karena keberanian. Saya tidak pernah bisa dibeli dengan uang.
Waktu mau terima penghargaan Goldman Environmental Prize 2001,
Freeport bilang sudah beli saya dengan US $ 248.000. Tapi saya tanya:
uang itu ada di mana? Siapa makan itu uang? Perjuangan Mama Yosepha
tidak bisa dibeli dengan uang. Karena Mama Yosepha berjuang bukan
untuk uang, bukan untuk pangkat tapi untuk kebenaran dan untuk angkat
harga diri manusia. Bagi Mama Yosepha, perjuangannya melawan Freeport
adalah salah satu bagian dari perjuangan seluruh 
Papua melawan ketidak-adilan. Hak-hak orang Papua sudah dijual. Banyak
orang Papua sudah dijual dan mati. Dan sekarang orang Papua mau
berjuang untuk dapat kembali haknya. Karena itu, Mama Yosepha
menyerukan agar perjuangan menegakkan kebenaran ini dijauhkan dari
sifat kejar uang dan pangkat. Kalau perjuangan orang Papua, dan bahkan
manusia di seluruh dunia untuk mengakat kebenaran didasari dengan
kepentingan mencari uang dan pangkat, maka perjuangan akan sia-sia.
Kita bukan berjuang tapi baku jual!

Mama Yosepha mengakhiri pidatonya dengan bahasa filosofis khas orang
gunung:

	Perjuangan saya mengalir seperti air dari gunung, tidak berhenti.

	Kau tidak bisa stop saya dengan uang atau pangkat, sebab saya
berjuang 	untuk kebenaran.

	Harkat dan martabat orang Papua itu yang Mama Yosepha perjuangkan.

	Dan saya tidak takut dengan Freeport, tentara atau negara.Saya hanya
takut 	TUHAN, sebab saya berdiri di atas gereja. Gereja adalah saya
dan saya 	adalah gereja!

Itulah pengakuan Mama Yosepha Alomang. Salut kepada Mama Yosepha.
Selayaknya pejuang intelektual menurunkan keangkuhan hatinya lalu
belajar berjuang dari keteladanan perjuangan Mama Yosepha. Yosepha
adalah teladan yang hidup. (Yosef/ipo)

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: siarlist-unsubscribe@minihub.org
For additional commands, e-mail: siarlist-help@minihub.org